Showing posts with label cermin/cerpen. Show all posts
Showing posts with label cermin/cerpen. Show all posts

Boneka Neraka -2-

23 November 2009; pukul 11.00

Inspektur!” Janu berlari ke ruangannya dengan napas terengah. Di tangannya terdapat selembar kertas. Wajahnya menunjukkan keterkejutan. Di dalam ruangan satuan reserse dan kriminal hanya ada Inspektur Turangga.
“Saya menemukan surat ini… di kotak pos depan.”
Inspektur Turangga menyambar kertas yang dipegang Janu. Dia membacanya sekilas. Lalu diremasnya kertas itu.
“Jadi boneka bodoh itu ingin bermain dengan kita!?”
“Tapi Pak, mengapa dia mengirim surat pemberitahuan? Seperti bukan dia saja.”
Entahlah. Kita harus ke sana. Aku tahu tempat yang dimaksud.”
“Baik, Pak!”

Wahai polisi-polisi bodoh, kali ini aku berbaik hati. Temui aku di Gerbang Surga di mana kotak gambar yang telah rusak disimpan. Ingat burung phoenix yang mencurinya. Dan saat tiga pengembara menatap langit, pada saat itulah Apollo menunjukkan kehebatannya, dan tawanan surga akan terperangkap selamanya.
[I JUST WANNA PLAY A GAME]

23 November 2009; pukul 11.45
Inspektur Turangga dan Janu tiba di depan sebuah bioskop yang telah terbakar, Madiun Theatre. Bioskop itu terletak di pinggir jalan raya dan diapit oleh dua toko buku yang cukup ramai.
“Apa benar dia ada di sini, Pak?”
“Pesannya yang mengatakan sendiri. Kotak gambar berarti bioskop. Burung phoenix merupakan burung api. Madiun punya dua bioskop yang bankrut, tapi yang ditutup karena kebakaran hanyalah ini.”
“Terus mengapa kita harus ke sini secepat ini? Siapa tahu dia hanya menjebak kita?”
Kukira kau lebih cerdas dari yang aku pikirkan. Tiga pengembara menatap langit adalah saat jarum jam, menit, dan detik menunjuk ke atas, yaitu jam 12.00. Sedangkan Apollo itu dewa matahari Yunani, dia akan membunuh korban selanjutnya pada pukul 12 siang ini. Cepat, waktu kita tidak banyak!”
Inspektur Turangga menjelaskan sambil berlari ke dalam bioskop. Keadaan bioskop itu gelap dan suram karena sudah tidak ada lagi yang datang untuk menonton. Dengan membawa revolver di tangan, Inspektur Turangga dan Janu mulai menyelidiki seluruh isi bioskop. Sang inspektur segera melesat ke lantai 2 bioskop dan memerintahkan Janu menyelidiki lantai 1.
Hoi! Keluar kau, Keparat!” terdengar teriakan di lantai 2.
“Mencariku Inspektur?”
Dari arah punggung inspektur muncul sesosok misterius berjubah hitam dan bertopeng. Inspektur Turangga menjaga jarak dengan sosok tersebut.
“Mana tawananmu?!” Tanya inspektur geram.
“Tawanan? Kau masih belum sadar juga?”
“Aku sudah tahu pola permainanmu. Nama korban, waktu kematian korban, dan cara kau membunuh. Semua berkaitan dengan pesanmu.”
“Oh ya.”
“Hampir saja aku keliru karena kasus ketiga. Itu memang murni kecelakaan. Menurut keterangan anak buahku, sebelum dibawa ke rumah sakit ada beberapa orang yang menolong korban, dan di situlah kau menyelipkan pesanmu. Kebetulan sekali, lalu kau menyesuaikan kembali dengan kasus keempat.”
“Apa benar begitu Inspektur?”
Sosok hitam tersebut memojokkan inspektur ke dalam salah satu ruangan bioskop. Tangan kanannya mengeluarkan revolver dari balik jubah dan diarahkannya senjata api tersebut ke kepala inspektur. Inspektur Turangga refleks juga mengarahkan miliknya ke tubuh Boneka Neraka. Tapi sayang itu hanya tipuan, dengan satu gerakan kilat tangan kiri si boneka --yang juga memegang pistol-- menembakkan peluru 6mm ke tubuh inspektur. Dua bunyi tembakan keras membuat tubuh inspektur terjengkang ke belakang. Cairan merah-kental mengalir tepat di bagian jantung inspektur. Bunyi debam di lantai berdebu di dalam ruangan tersebut mengantar kepergian Inspektur Turangga. Menjadi tawanan surga selamanya.

***

Boneka Neraka berjalan meninggalkan bioskop tua itu. Menanggalkan jubah hitamnya dan melepaskan topengnya. Di belakangnya, bioskop yang dulu pernah dicuri phoenix kini kembali membara. Membakar habis semua benda dan apapun yang ada di dalamnya. Jerit panik warga sekitar terdengar di mana-mana. Dan dari kejauhan terdengar sirene mobil pemdam kebakaran. Sosok Boneka Neraka yang berperawakan sedang-ideal itu berjalan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia membetulkan letak kacamatanya. Kemudian tersenyum simpul dengan ujung bibir kanan tertarik ke atas. Diambilnya telepon selular dari sakunya dan dia mulai mengetik pesan pendek.

I just wanna play a game
Do you want to play?
Join us and come to Heaven Gate
I’ll wait you…

Sending message

Delivered to: Inspektur Turangga

Maaf, Inspektur.” gumamnya sambil tertawa. Tawa setan.

Boneka Neraka -1-

Sesosok tubuh tergantung kaku di langit-langit kamar. Tak terlihat jelas wajahnya, tapi dari ciri fisiknya, tubuh kaku itu adalah seorang perempuan. Suasana remang di kamar tersebut karena penerangan hanya berasal dari layar Apple yang menyala di atas meja.
 
From : boneka_neraka@hell.net
To : cathcute@www.com
Subject : ---
I just wanna play a game
Do you want to play?
Join us and come to Heaven Gate
I’ll wait you…

Tak lama setelah beberapa ketukan keras di pintu terdengar, seorang perempuan paruh baya masuk. Tangannya mencari-cari tombol lampu kamar tersebut. Dan setelah lampu menyala jeritan keras memecahkan ketenangan pagi saat dia melihat mayat anaknya.

***

 Gila! Ini sudah yang keempat!”

Inspektur Turangga Bayu menggerutu di kantornya. Kasus bunuh diri di kota Madiun bertambah lagi. Sejak pertengahan bulan Oktober lalu pelaku bunuh diri itu sudah mencapai empat orang. Sebagian besar pelakunya adalah pelajar putri berusia antara 17 sampai 20 tahun.

Janu, ceritakan lagi kondisi pelaku!” perintahnya.

Janu yang sibuk membuat catatan kasus hari itu menghentikan pekerjaannya. Pelaku bunuh diri kali ini bernama Sherly Anggraini, mahasiswi semester 4 di Universitas Merdeka Madiun. Penyebab kematiannya adalah kehabisan napas karena tercekik oleh tali yang menjerat lehernya. Berdasarkan kekakuan tubuhnya, dapat diperkirakan dia meninggal 12 jam sebelum ditemukan, yaitu sekitar jam 6 sampai jam 7 malam.

“Ini sudah jelas bunuh diri, Pak.”

Bukan. Dia bukan pelaku, dia korban. Bagaimana dengan hasil otopsi?”

“Dari hasil analisa lambung, ditemukan adanya obat tidur di dalam perut korban. Tapi menurut keterangan ibunya, dia minum obat tidur itu karena penyakit insomnianya.”

Sudah kubilang dia itu korban. Sama seperti kasus-kasus sebelumnya. Ada sisa obat tidur atau obat penenang di tubuh korban. Ingat juga kondisi sekeliling korban. Pesan dari Boneka Neraka selalu muncul kan? Kasus ini pasti pembunuhan, dan yang aku khawatirkan akan ada korban selanjutnya.”

“Maksud Bapak?”

“Tidak. Hanya naluri kepolisianku saja.”

Janu agak terkejut dengan dugaan atasannya tersebut. Memang baru empat kasus yang terjadi dan mengatasnamakan Boneka Neraka. Namun, atasannya itu sudah bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Apakah benar ini kasus pembunuhan berantai? Dia membetulkan letak kacamatanya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sementara itu, Inspektur Turangga masih memikirkan kertas yang dibawanya.
  • Korban pertama. Ineke Arini Putri. 17 tahun. Tanggal kejadian 26 Oktober 2009. Penyebab kematian korban adalah overdosis obat penenang. Di handphone korban tertulis sebuah pesan yang sama dari Boneka Neraka. 
  • Korban kedua. Juli Senandung. 20 tahun. Tanggal kejadian 2 November 2009. Penyeban kematian adalah jatuh dari lantai tiga sebuah mal. Ditemukan surat di dalam saku jaket korban dengan pesan yang sama. 
  • Korban ketiga. Ujang Gunawan. 18 tahun. Tanggal kejadian 5 November 2009. Penyebab kematian adalah tertabrak mobil. Korban meninggal karena kehabisan darah saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Di sakunya juga ditemukan kertas pesan Boneka Neraka.
  • Korban keempat. Sherly Anggraini. 20 tahun. Tanggal kejadian 16 November 2009 (hari ini). Penyebab kematian adalah tercekik. 

    *** 
Di sebuah ruangan dengan lampu temaram seseorang memandang papan putih yang terletak di depannya.

Ineke Arini Putri 26/10/2009 overdosis
Juli Senandung 02/11/2009 keracunan
Ujang Gunawan 05/11/2009 kecelakaan
Sherly Anggraini 16/11/2009 gantung diri

Dia mencoret nama Sherly dan kemudian menambahkan satu nama lagi. Dia tersenyum. Kemudian tertawa. Sambil menuangkan Vodka ke gelasnya, dia merebahkan diri ke sofa.

Selamat bermain Inspektur.” gumamnya. Sosok misterius itu meminum Vodkanya, diselingi dengan tawa setannya.

Ineke Arini Putri 26/10/2009 overdosis
Juli Senandung 02/11/2009 keracunan
Ujang Gunawan 05/11/2009 kecelakaan
Sherly Anggraini 16/11/2009 gantung diri
Turangga Bayu 23/11/2009 kecelakaan

***

Hujan yang mengguyur kota Madiun siang itu tak mampu menggoyahkan kesibukan di Kantor Polresta Madiun. Inspektur Turangga, Janu, dan beberapa anggota satuan reserse dan kriminal lainnya sibuk menelaah kasus bunuh diri (yang diduga sang inspektur sebagai kasus pembunuhan berantai) baru-baru ini.

Inspektur Turangga Bayu adalah polisi senior berusia sekitar 40 tahun. Badannya tinggi-tegap, tidak seperti polisi-polisi tua lainnya yang berperut buncit. Anti rokok dan alkohol, serta berjiwa pemimpin. Sudah lima tahun dia dipindahkan ke Kepolisian Madiun dari Kepolisian Daerah Jawa Timur di Surabaya. Alasannya karena prestasinya yang terus naik, bantuannya diperlukan di daerah. Sedangkan anak buah kesayangannya, Janu Setiyawan, baru dua tahun lulus dari Akademi Kepolisian. Inspektur Turangga sendiri yang memilihnya sebagai asistennya. Orangnya cerdas. Berperawakan sedang-ideal, khas polisi muda yang baru masuk. Sejak saat itulah, Janu menjadi orang kepercayaan Inspektur Turangga.

“Pak, sepertinya saya sedikit mengerti kasus ini.”

“Bagaimana?”

“Benar kata Bapak. Ini pembunuhan berantai. Entah kebetulan atau tidak, coba lihat nama korban. Dan bandingkan dengan surat dari Boneka Neraka.”

Setelah berpikir sejenak, “Jangan-jangan…”

Iya Pak. Saya berpikir huruf awal dari nama-nama korban cocok dengan isi surat tersebut.” Janu menandai apa yang dimaksudnya.

Ineke; Juli; Ujang; Sherly 
I JUST WANNA PLAY A GAME

“Berarti, kalau berdasarkan analisismu, korban berikutnya adalah seseorang dengan huruf awal namanya ‘T’.”

“Saya rasa begitu, Pak.”

“Tapi siapa orang itu? Warga Madiun ada seribu orang lebih!”

“Saya sudah membuat daftarnya Pak. Di kota Madiun ini orang dengan huruf awal namanya ‘T’ ada sekitar 80 orang. Kita mungkin bisa menanyainya satu-persatu.”

“Hh… ada namaku juga ya.” inspektur tersenyum.

Janu juga ikut tersenyum. Ujung bibir kanannya tertarik ke atas. “Tidak mungkin Boneka Neraka berani mendekati Bapak.”

Sang inspektur memandangnya, “Apa ada hal lain yang kau temukan? Persamaan dari keempat korban tersebut? Kita tidak mungkin harus menanyai kedelapan puluh orang tersebut kan?”

“Untuk sementara ini saya belum menemukannya, Pak. Tapi saya akan terus berusaha.”

Baik. Lanjutkan pekerjaanmu!”

Sahabat -2-

"Den, istirahat dulu."
"Tahan Gan. Bentar lagi nyampe kok. Kita istirahat di sana aja."
Terik matahari menyengat keempat muda-mudi itu. Kira-kira sudah hampir enam jam mereka meninggalkan perkemahan mereka. Namun, bagi mereka perjalanan itu tidak melelahkan. Candaan, gurauan, dan tawa selalu menemani mereka.
"Yak, sedikit lagi. Dan ini dia 'the most beautiful place' itu!"
Keindahan alam Sang Pencipta membuat mereka takjub. Mata air di lembah pegunungan yang jernih, pohon-pohon raksasa yang memayungi mereka dari terik, dan kicauan berbagai jenis burung tidak dilewatkan begitu saja. Setelah meletakkan ransel mereka di samping sungai yang mengalir, semua sibuk dengan dunianya masing-masing. Terutama Ganba, dia segera mengeluarkan kameranya dan mengambil gambar-gambar di sekitarnya. Tirta, Dendra, dan Nay segera menyiapkan makan siang mereka. Menangkap ikan di sungai, membuat kayu bakar, dan menggelar tikar yang mereka bawa.
"Gan, jangan jauh-jauh ya. Soalnya di sebelah sana, di dalam hutan, ada tebing. Hati-hati nanti jatuh." Dendra mengingatkan.
"Oke, Bos!"
Tak lama kemudian, suasana menjadi hening. Hanya terdengar kicauan burung dan gemericik air sungai. Ganba sudah hilang entah ke mana. Nay duduk di tikar sambil membaca buku. Dendra dan Tirta masih sibuk menyiapkan kayu bakar dan bahan makanan mereka. Dalam kesunyian itu mereka dikejutkan oleh teriakan yang dikenal mereka. Mereka bertiga segera berlari ke arah jeritan.
"GANBA!!!"
"Gan! Kamu di mana?!"
Mereka terus berteriak memanggil teman mereka. Sayup-sayup terdengar suara dari arah tebing. Mereka berlari ke arah tebing dengan hati-hati agar mereka tidak tergelincir. Setibanya di sana, yang terlihat oleh mereka adalah Ganba yang sedang berusaha sangat keras berpegangan pada sisi tebing.
"Gan, tenang di situ dulu." Dendra mengulurkan tangannya.
"Cepat Den. Aku udah nggak kuat lagi."
"Ta, tolong bantu aku."
Tirta segera kembali ke tempat peristirahatan mereka dan mengambil beberapa meter tali. Nay yang merasa amat cemas hanya bisa berdiri di belakang Dendra. Tirta yang sudah kembali segera memasang tali di badan Dendra dan mengaitkan sisanya di pohon di dekatnya. Dendra memajukan badannya ke arah Ganba, sementara Tirta menahan talinya agar mereka berdua tak jatuh.
"Gan, cepat! Pegang tanganku!"
"Nggak bisa Den."
"Nggak. Kamu pasti bisa."
"Gan, kamu pasti bisa." Nay memberi semangat.
Ganba berusaha meraih tangan Dendra. Namun, tangannya tergelincir. Tangan Ganba terlepas dari tebing. Pada saat yang bersamaan Dendra melompat dan berhasil meraih tangan Ganba yang besar. Hampir saja mereka berdua jatuh kalau Tirta tidak menahannya dengan kuat.
"DAPAT! Gan, sekarang cepat naik ke badanku."
Tangan Dendra kesemutan. Dia sudah merasa tidak kuat menahan beban Ganba, ditambah lagi tangannya berkeringat. Tirta dengan wajah dan juga tangan memerah menarik tali penahan sekuat tenaga. Nay memandang ketiganya dari tepi tebing dan terus menyemangati Ganba. Ganba sendiri tersenyum, sambil menangis. Dan tiba-tiba dia meracau sendiri.
"Aku seneng banget punya sobat kayak kalian. Waktu pertama ketemu entah kenapa aku langsung ngerasa cocok sama kalian. Den tolong ya, jagain Nay buat aku. Tirta, tetap semangat sama cita-citamu buat galeri lukisan. Hahaha...."
"Gan! Ngomong apaan sih? Cepat naik!"
"Buat satu-satunya manusia paling cantik di sini. Nay. Aku sayang sama kamu. Bodoh banget ya, baru bilang sekarang. Tapi aku lega udah bilang. Maafin aku ya selama ini."
"Tirta! Cepat tarik!"
Dendra menarik tangan Ganba yang hampir lepas dari tangannya. Ganba meraih tangan Dendra yang memerah, tapi kemudian dengan cepat dia melepaskannya. Dendra terkejut. Nay menutup mulutnya dan menitikkan air mata. Tirta merasa tali yang dipegangnya menjadi lebih ringan. Mereka bertiga tidak tahu Ganba akan melakukan hal seperti itu.
"Aku sayang sama kalian semua!!!" Ganba berteriak, sambil tersenyum.
"GANBA!!!"
Semburat cahaya matahari senja menemani mereka dalam sendu. Burung gagak berkoar ikut merasakan kesedihan mereka. Dendra memanjat tebing dengan baju basah dan penuh debu. Tirta duduk meringkuk menutupi wajahnya. Nay menghampiri dan memeluk mereka berdua. Ia tumpahkan tangisnya di pundak Dendra. Tirta mengusap rambut Nay. Semua terdiam dalam kehilangan. Hembusan angin, cahaya senja, dan gemerisik daun mengantarkan kepulangan salah satu sahabat terbaik mereka. Selamanya.

***

Lelaki berbadan tegap itu masih berwajah sendu. Di sampingnya telah ikut melihat sepasang pria-wanita muda. Bayu menyibak dedaunan pohon kamboja. Bianglala terbangun oleh panggilan mentari setelah hujan berhenti turun. Pusara di hadapan mereka bertuliskan nama seorang teman, sahabat, dan saudara terbaik mereka.

GANBA PERDANA
bin
ADI SOEMAKI
Lahir: 2 April 1986
Wafat: 19 Juni 2007

Lelaki berwajah sendu mengeluarkan secarik surat dari dalam amplop coklat yang dibawanya. Dia mulai membaca.

Teruntuk Ganba. Sahabat dan saudara kami tercinta.Hai, Gan! Gimana kabar di sana? Kita bertiga sehat-sehat aja kok. Maaf ya, baru sempat ke sini. Kita ke sini cuman mau ngingetin kamu, hari ini udah tepat 3 tahun kita nggak ketemu. Mungkin aku nggak akan bisa cerita banyak karena kamu tau kan, aku nggak pandai nulis.Selama tiga tahun ini, kita bertiga coba untuk menuhin keinginanmu. Cita-citamu yang paling banget pengen diwujudin lagi dikerjain sama Tirta. Dia ngumpulin semua hasil jepretanmu buat ditaruh di galerinya. O ya, dia juga bikin galeri lukisan lho. Keren banget pokoknya.Tentang kabar Nay, dia sekarang udah nikah. Tau nggak sama siapa? Yang pasti bukan sama aku lah. Nay udah kayak adek aku sendiri. Tirta yang ngelamar Nay. Baru aja, sekitar dua bulan lalu. Aku udah ngira sih kalo Tirta ada perasaan khusus ke Nay. Tapi, kamu tenang aja Gan. Kalo Tirta bikin Nay sampai nangis aku nggak akan maafin dia.Tuh kan, aku nggak bisa cerita banyak. Nggak tau apalagi yang mau aku tulis di sini. Yang pasti kita bertiga masih ngerasa kehilangan kamu Gan. Aku aja sampai saat ini belum bisa nemuin sosok yang kayak kamu. Ceria, gendut, gokil, gila.

Selamat jalan sahabat, semoga lain waktu kita bisa ketemu, di sana.

Salam kangen, sayang, dan cinta.
Sobat dan saudaramu(Dendra, Nay + Tirta)

Ketiga muda-mudi itu menaburkan bunga mawar di atas pusara Ganba. Mereka menundukkan kepala sejenak. Mendoakan salah satu saudara mereka. Angin kembali menyapu tubuh mereka. Matahari perlahan meninggalkan peraduannya. Candra yang masih berwajah pucat telah menempati singgasananya. Mereka bertiga memandang pusara tersebut dan meninggalkannya. Sendirian. Dalam sepi.

***

Selembar foto menjadi saksi awal perjumpaan keempat anak manusia ini. Perjumpaan saat mereka masih memakai seragam putih abu-abu. Saat mereka masih berjalan dalam kebu-abuan hidup. Saat pertanyaan siapakah aku muncul. Saat di mana mereka menikmati masa-masa terindah dalam hidup. Empat potong jaket berwarna merah tua yang mereka pakai akhirnya menyatukan manusia-manusia ini ke dalam ikatan yang lebih kuat. Persahabatan karena rasa percaya bermetamorfosis menjadi persaudaraan yang abadi.

Sahabat -1-

Tetes-tetes air masih menempel pada dedaunan. Genangan air berwarna coklat terlihat di mana-mana. Seorang lelaki dengan wajah sendu memandangi selembar foto yang sedang digenggamnya. Tangannya yang lain membawa sebuah bungkusan coklat yang isinya tak terlihat dari luar. Sinar matahari yang menerpanya membuat garis wajahnya seakan mengeras.

***

"Nay, coba liat nih!"
"Ooo...."
"Hah? Hey, lihat ini!"
"Ganba, aku udah tau kalo itu kamera. Dan kamu nggak perlu heboh kayak gitu, lah."
"Halah, Nay. Kamu kayak nggak tau Ganba itu gimana." sahut Tirta tiba-tiba.
"Nay, Ta. Ini Canon A400, keluaran terbaru Canon. Aku baru aja beli. Wuih, puas banget deh pokoknya. Keunggulannya tuh..."
"Iya, aku tau kalo itu kamera barumu kan. Terus?" potong Nay.
"Tapi, coba liat dulu bentar."
"Udah, udah." Tirta menengahi, "Nggak usah ribut gitu kalian. Kayak anak kecil aja."
Ganba menghempaskan tubuh tambunnya di sofa di samping Nay. Sementara Nay sibuk memainkan ponselnya dan Tirta masih menekuni lukisannya. Hening sejenak.
"Eh, Dendra mana?" Ganba memecah kesunyian, "Kok nggak kelihatan?"
"Iya. Mana nih 'tuan pembuat acara'. Nay?" Tirta menimpali.
"Tau." jawab Nay dengan muka masih cemberut.
Deru motor di halaman menandakan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Tak lama, seorang pemuda berbadan tegap yang memakai jaket kulit hitam dan dengan helm di tangan kirinya membuka pintu.
"Oi, pren! Sori telat."
"Dari mana aja sih, Den?"
"Nih." jawab Dendra sembari melemparkan beberapa brosur, "Aku udah nyari tempat-tempat yang asyik. Kalian tinggal pilih aja." lanjutnya sambil menempatkan duduknya di dekat Nay dan melingkarkan tangannya di pundak Nay.
"Ini nih bagus."
"Kalo ini?"
"Nggak, ini nih."
Ganba, Tirta, dan Nay bersahut-sahutan mengusulkan beberapa tempat sambil membolak-balik brosur-brosur itu.
"Aku ikut aja lah. Yang penting, pas di sana harus nggak ngebosenin, ya Den." sahut Tirta.
"Ya, udah. Pilih salah satu. Nanti aku bikin model acaranya seperti apa."
"Aku pengennya tempatnya adem, sejuk, pokoknya nggak panas." pinta Nay.
"Ya udah. Ini aja." Ganba menyodorkan salah satu brosur.
"Atau yang ini." Dendra menyarankan yang lain.

***

"Woi, bangun! Udah jam 5!" Dendra berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh Tirta dan Ganba yang masih tertidur.
Dendra kemudian bergegas keluar menuju tenda kecil di samping tenda mereka bertiga.
Dia berteriak agak pelan."Nay, bangun. Udah telat nih kita. Katanya mau ke atas?"
Tak terdengar suara dari tenda kecil itu. Dendra merasa sedikit khawatir. Dia membuka pintu tenda dan mendapati perempuan yang seharusnya ada di tenda itu, raib.
"GAN! TA! Nay nggak ada!"Tirta terbangun mendengar teriakan Dendra. Mereka berdua mencari Nay di sekitar perkemahan mereka.
"Nay! Jangan sembunyi dong! Nggak lucu oi!"
"Hei, Dendra, Tirta!"
Dari kejauhan seorang perempuanberambut panjang yang memakai jaket dan celana jeans panjang menghampiri mereka. Wajahnya terlihat segar.
"Brrr, airnya dingin banget. Kayak mandi pake air es lho. Ng, kalian lagi nyari apa? Bisa dibantu?" tanya Nay dengan wajah tak bersalah.
"Kamu nggak apa-apa kan, Nay?" Dendra memegang pundak Nay.
"Nggak papa kok. Emang ada apa sih?"
"Jadi kamu barusan mandi? Tau nggak kita takut kamu kenapa-napa. Tiba-tiba nggak ada di tenda. Kirain kamu diculik kek, atau jatuh ke jurang. Ini datang-datang malah senyum-senyum gitu." Tirta yang merasa kesal menyerang Nay bertubi-tubi.
"Ya, maaf deh. Habis, waktu aku bangun, kalian masih ngorok aja. Ya udah, aku mandi. Maaf ya." Nay memohon sambil mengatupkan kedua tangan di depan mukanya.
"Hh... ya aku maafin."
"Hehehe." tawa Nay tanpa rasa bersalah, "tapi makasih ya, udah khawatir sama aku. Ta. Den."
Tak tahu mengapa ada sesuatu yang berdesir dalam diri salah satu kaum Adam tersebut. Melihat tawa dan tingkah laku lawan jenisnya yang satu ini membuat perasaannya hangat. Lamunannya buyar saat Nay menanyakan keberadaan teman mereka yang satu lagi. Di antara mereka tidak terlihat sosok tambun yang biasanya selalu hadir. Tirta, Dendra, dan Nay melongok ke tenda besar. Mereka melihat sosok tambun itu masih melingkar di balik selimutnya.
"GANBA!!!"

***

Ironi

Sayup-sayup terdengar ayam jantan melakukan tugas rutinnya. Tak terdengar lagi suara jangkrik atau azan subuh. Dari arah dapur kudengar alunan bunyi parang dan kayu. Aku bangkit dari peraduanku.
“Sudah bangun, Pak.”
“Hm….”
Kulihat istriku sedang serius menekuni pekerjaannya. Pekerjaan rutin setiap pagi. Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga bagi keluarga kami. Bahkan, pekerjaan yang seharusnya kulakukan, mencari sepiring nasi bagi anak-anakku. Kuambil handuk yang sudah berbau apek dan berlubang di mana-mana. Aku melangkahkan kakiku dengan berat ke kamar mandi. Kubiarkan air dingin membasuh tubuhku dan menyadarkanku.

***

Aku merebahkan tubuhku di atas dipan tempat tidurku. Kulihat kedua anakku yang masih berusia sekolah dasar bermain di depan gubuk reyot ini. Badanku yang sudah “karatan” ini sakit semua. Kupaksakan melakukan semua pekerjaan rumah. Bahkan, pekerjaan untuk menghidupi keluarga ini saja, aku yang melakukannya. Tentu saja hanya dengan membuka warung tidak akan mampu membayar uang-uang untuk hidup. Apalagi suamiku, laki-laki pemalas itu, tidak bekerja. Kerjanya hanya pergi entah ke mana dan pulang sore hari atau tengah malam. Baru saja dia berpamitan denganku. Katanya akan mencari kerja. Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali dia mengatakan hal yang sama. Tapi hasilnya, dia selalu pulang dengan wajah muram.
Tuhan, mengapa Kau beri aku kehidupan seperti ini? Dari kecil aku sudah mengerjakan semua kewajibanku pada-Mu. Bahkan, tak pernah sekalipun aku menyentuh semua yang Kau larang. Apa itu semua belum cukup? Aku menitikkan air mata lagi. Air mata yang tak pernah kutahu kapan akan kering. Air mata yang kutumpahkan saat aku memikirkan kehidupanku saat ini. Air mata yang senantiasa hadir saat kutunggu laki-laki itu pulang.
Aku ingin mati. Entah mengapa, tiba-tiba hal tersebut terlintas dalam pikiranku. Ya, aku mau mati. Daripada terus menderita seperti ini, lebih baik aku mati saja. Memang, sudah berkali-kali aku memikirkan kematian. Namun, dorongan itu menjadi kuat hari ini. Buat apa hidup seperti ini? Hidup dengan lelaki tak berguna. Tapi, kasihan juga anak-anakku jika aku tak ada. Mereka juga akan menderita. Apa mereka juga harus ikut denganku? Ya. Tidak, tidak. Tapi, ya, mereka juga harus mati. Aku berjalan tertatih dan mengambil sebotol racun tikus dari rak piring. Kutuangkan racun berwarna putih itu ke dalam dua gelas air. Kupanggil kedua anakku yang tengah bermain.
“Dul, Gus, kemari sebentar, Nak.”
“Ada apa Bu?” sahut mereka.
“Ini minum dulu. Kalian pasti capek kan.”
Kuberikan dua gelas racun tikus itu pada mereka. Tanpa rasa curiga, mereka langsung meminumnya sampai habis. Mataku berkaca-kaca. Mengapa? Bukankah aku sudah yakin? Aku tidak boleh ragu. Aku juga meminum racun itu segera. Ya, hanya satu tujuanku. Aku akan pergi dari dunia busuk ini. Maafkan aku suamiku. Maafkan aku Tuhan.

***

Sinar matahari semakin membakar kulitku. Bau sampah yang bertumpukan di sekitarku sudah tak terasa. Aku sudah tak tahu berapa lama aku duduk di sini. Sambil menghisap rokok kegemaranku, aku menunggu umpan di kailku dimakan oleh ikan-ikan di sungai ini. Ini memang yang seiap hari aku lakukan. Tapi, mungkin ini hari baikku. Baru saja seorang pria berdasi, yang duduk di sebelahku tadi, menawarkan pekerjaan padaku. Pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di kantornya. Aku sadar selama ini aku tidak berusaha menafkahi keluargaku. Aku merasa bersalah pada istriku yang malah melakukan tugas itu. Sekarang saatnya aku membalas budinya selama ini. Walaupun pekerjaan itu tak seberapa menghasilkan. Aku ingin berguna bagi keluargaku. Aku tak ingin lagi menjadi lelaki pemalas yang kerjanya hanya memancing.
Kubereskan alat pancingku yang telah menemaniku sepanjang hari. Aku berlari dan akan memberitahukan kabar gembira ini pada istri dan anak-anakku. Mulai sekarang tidak akan ada lagi suami pemalas. Tidak akan ada lagi tangisan istriku setiap malam. Tidak akan ada lagi wajah lesu saat aku pulang. Yang ada hanyalah wajah lelahku saat aku pulang kerja, serta wajah-wajah gembira istri dan anak-anakku yang menyambutku.